Minggu, 26 Desember 2010

Manajemen Diri


Kadang saya keteteran oleh tugas-tugas kuliah yang menumpuk. Mungkin karena saya tidak memikirkan apa yang terjadi bila tugas itu tidak saya kerjakan langsung. Atau saya menganggap bahwa tugas itu masih lama untuk dikumpulkan,jadi saya tunda-tunda mengerjakannya. Dan akhirnya muncul tugas-tugas baru dan akirnya menumpuk dengan tugas yang lama. Oleh karena itu saya harus bisa memanajemen diri saya sendiri.

Entah kenapa saya merasa sulit menjalani. Kadang saya lupa pada tugas yang sudah saya prioritaskan, padahal saya sudah rencanakan akan mengerjakan itu dahulu. Ada ungkapan yang mengatakan ”If you fail to plan, you plan to fail”. Apabila Anda menjalani hari Anda tanpa ada gambaran apa yang harus dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya, Anda akan menghabiskan sebagian besar waktu Anda bertanya ”Apa yang harus saya kerjakan sekarang ya?”.

Mungkin saya terlena oleh yang lain sehingga lupa akan rencana saya yang mengakibatkan tugas menumpuk dengan tugas baru. Akhrinya saya menulis tugas-tugas itu pada sebuah kertas beserta tanggal dikumpulkannya dan ditempel pada kaca lemari. Lalu saya memilih tugas yang mempunyai prioritas tinggi hingga ke rendah. Contohnya tugas yang akan dikumpulkan lebih awal itulah yang punya prioritas tinggi.

Seringkali saya tertekan dalam mengerjakan tugas, mungkin ingin menyelesaikan semua dalam waktu yang sama. Akibatnya saya jadi pusing dan stress, bahkan tidak selesai satu tugas pun. Mungkin karena saya kurang fokus mengerjakan tugas, tugas yang mana yang harus saya kerjakan misalkan ada dua tugas yang harus dikumpulkan pada waktu yang sama. Karena itu saya mencicil tugas ketika saya mendapatkan tugas itu dengan mengumpulkan bahan yang akan saya kerjakan. Dan saya mengerjakan yang menurut saya lebih mudah.

Dan jangan biarkan faktor-faktor eksternal mengganggu. Biasanya kosentrasi saya tidak fokus kepada tugas karena faktor tersebut. Saya mencari waktu yang sekiranya tenang dan bisa fokus mengerjakan tugas.

Pengertian Manajemen Menurut James A.F. Stoner : Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan sumua sumber daya yang ada pada organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Pengertian Manajemen Menurut Mary Parker Follet : Manajemen adalah suatu seni, karena untuk melakukan suatu pekerjaan melalui orang lain dibutuhkan keterampilan khusus.

Tidak mudah menjalani tujuan hidup yang sudah kita rencanakan, karena terkadang rencana yang sudah kita ingin jalankan terbentur oleh kenyataan yang ada. Karena kita tidak mempunyai kuasa apapapun untuk dapat menentukan apakah tujuan yang sudah kita tentukan itu dapat berjalan dengan baik. Karena ada Tuhan yang menentukan dan mempunyai kuasa atas segala hal yang ada di dunia ini. Jika DIA sudah menentukan tidak apakah kita dapat merubahnya. Oleh sebab itu kita hanya dapat berdoa agar tujuan yang sudah kita rancang dapat berjalan sesuai rencana.

Manajemen diri adalah orang yang mampu untuk mengurus dirinya sendiri. Sedangkan kemampuan untuk mengurus diri sendiri itu dilihat dari kemampuan untuk mengurus wilayah diri yang paling bermasalah. Dan yang paling biasa bermasalah dalam diri itu adalah hati. Oleh karena itu kita harus bisa memanajemen hati dengan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.

Jika diantara ketiganya kita satukan untuk dapat manata atau memanajemen diri, tidaklah mungkin semua yang sudah kita rencanakan dapat berjalan sesuai dengan harapan. Karena dari ketiga kecerdasan tersebut saling mendukung dalam menata diri.

Presentasi


Kadang saya kurang lihai dalam mempresentasikan sesuatu,mungkin ada sebab-sebabnya yang menghambat saya untuk dapat presentasi dengan baik. Saya sendiri mulai mengenali kekurangan saya pada saat presentasi,yang kebanyakan saya ketahui adalah kurangnya persiapan untuk pemahaman materi yang saya bawakan. Tapi bagi saya hal yang paling penting adalah percaya diri. Mau orang hebat seperti apapun kalau rasa percaya dirinya mulai berkurang maka dia akan terlihat gugup dan kehilangan daya tariknya.

Di kampus mahasiswa juga mengeluh, katanya banyak dosen yang pintar untuk dirinya sendiri, ilmunya tidak mengalir. Kadang saya merasa bosan kalau cara mengajar dosen seperti itu. Kita semua memang memiliki masalah yang sama ketika harus berbicara di hadapan publik. Berikut adalah tips bagaimana melakukan presentasi yang baik. Jangan biasakan tergantung pada teks. Teks dapat membunuh bakat, merusak flow dan menciptakan jarak. Gunakan pointers, sekedar untuk membantu. Ukur sungguh-sungguh dalamnya sungai. Pelajari dulu siapa audiencenya, latar belakang, jalan pikiran, pendidikan dan jabatan mereka. Jangan main asal tembak.
Jangan bicarakan dua hal ini : Yang sudah mereka tahu, atau yang tak ingin didengar. Selalu sajikan hal-hal yang orisinal, jangan merusak mood audience dengan pernyataan yang tidak disukai.
Jangan biarkan audience jenuh. Jaga volume suara, nada tidak monoton, begitu mereka mulai jenuh ajaklah dialog, berikan sedikit humor. Humor tidak boleh berlebihan. Ia hanya boleh digunakan untuk membangkitkan daya pikir. Jika berlebihan akan kehilangan substansi.

Periksa ruangan dan fasilitas presentasi termasuk mikrophon sebelum dimulai. Ruangan yang langit-langitnya rendah akan membuat Anda cepat letih. Cahaya yang masuk dari kaca dapat mengganggu konsentrasi. Ruangan yang terlalu sempit dapat membatasi gerakan tubuh saudara. Tetapi yang terlalu lebar dapat membuat presentasi tidak fokus. Mikrofon dan sound system yang tidak baik dapat mengganggu konsentrasi.
Biasakan interaktif. Jangan asyik bicara sendiri. Berikan kesempatan peserta memberi contoh, jawaban, melakukan aktivitas tertentu (game, teka teki atau melakukan sesuatu), tertawa, atau bahkan mendengarkan musik. Be specific. Selalu berikan contoh dan ilustrasi. Sesekali berikan cerita. Jangan merendahkan mutu dengan mengatakan “maaf saya sebenarnya tidak siap”, “maaf bahasa Inggris saya payah”, “ini bukan bidang saya”, “Anda pasti lebih tahu dari saya”, “saya baru belajar”, dan seterusnya.

Manusia adalah mahluk yang malas yang hanya mau mendengarkan orang yang layak didengar, dianggap lebih tahu. Latihan yang cukup. Selalu mintalah umpan balik. Bila perlu rekam, putar kembali, minta pendapat dari orang dekat. Perhatikan bahasa tubuh. Jangan melakukan gerakan yang merusak penampilan. Berpakaianlah agak cerah, agar Anda menciptakan kesegaran di dalam ruangan. Jangan berbicara seperti sedang ngobrol dengan seseorang. Ingatlah Anda berbicara di hadapan puluhan orang, kombinasikan bahasa resmi dengan bahasa percakapan yang layak.

Ada pandangan dalam masyarakat bahwa kemampuan seseorang berbicara di depan umum adalah bakat bawaan dari lahir dan hanya dimiliki oleh orang - orang tertentu saja.
Berbicara di depan umum/ public speaking, baik itu dalam acara pernikahan, ulang tahun, peresmian kantor, acara penghargaan, pidato sambutan, kesaksian produk/ kesuksesan dan lainnya menjadi momok yang begitu menakutkan bagi sebagian besar orang, bukan hanya di Indonesia bahkan di dunia.

Beberapa manajer / eksekutif / owner perusahaan, leader Network marketing, pimpinan organisasi yang sempat saya temui, mengatakan mereka tidak berbakat / tidak bisa berbicara di depan umum dan cenderung kalau bisa menghindari berbicara di depan umum. Yang lebih parah lagi adalah para pelajar / mahasiswa yang merupakan generasi penerus bangsa ini, hampir sebagian besar yang saya jumpai tidak tertarik dengan yang namanya Seminar / Pelatihan. Alasan mereka sederhana saja, karena dalam bayangan mereka acara seperti itu membosankan.

Ada ungkapan bijak mengatakan bahwa Bakat itu 1 %, 99 % lainnya adalah Ketekunan dan Cara /metode. Kita semua dilahirkan ke dunia ini untuk pertama kalinya adalah Menangis, tidak ada satu bayi pun secara normal lahir sudah bisa berbicara. Baru pada bulan-bulan selanjutnya bayi mulai belajar mengeluarkan bunyi-bunyi yang membentuk penggalan kata. Setiap hari bayi mendengar kata demi kata dari lingkungan sekitar bayi. Saat itulah bayi tersebut sebenarnya sedang belajar untuk berbicara. Kalau kitan frustasi. Dan untuk anak-anak yang normal, saat usia di atas 2 tahun kemampuan berbicaranya akan semakin baik. Ini semua menggambarkan bahwa metode belajar diikuti ketekunan akan membuat setiap orang bisa berbicara. Begitu pula dengan berbicara di depan umum bila anda tahu caranya, mau mempraktekkan caranya secara tekun, pasti ANDA AKAN BISA.

Sabtu, 06 November 2010


Komunikasi Efektif
Komunikasi berasal dari perkataan “Communicare” yaitu yang di dalam bahasa latin mempunyai arti “berpartisipasi atau memberitahukan”, sedangkan perkataan “Comunis” berarti milik bersama ataupun “berlaku dimana-mana” atau juga berarti sama, sama di sini maksudnya sama makna. Jadi jika dua orang melakukan komunikasi misalnya dalam bentuk percakapan maka komunikasi akan berjalan atau berlangsung dengan baik selama ada kesamaan makna mengenai apa yang dipercakapkan. Collen McKenna mendifinisikan komunikasi sebagai proses pengiriman pesan kepada penerima dengan saling pengertian. Proses ini melibatkan beberapa komponen, yaitu pengirim pesan (sender), pesan yang dikirimkan (message), bagaimana pesan tersebut dikirimkan (delivery channel atau media), penerima pesan (receiver), dan unpan balik (feedback) yang diharapkan. WHO say WHAT to WHOM in what CHANNEL, yang dapat diilistrasikan pada bagan berikut.
Elemen-elemen yang terdapat dalam komunikasi adalah:
- Komunikator    : orang yang menyampaikan pesan
- Pesan                 : ide atau informasi yang disampaikan
- Media                : sarana komunikasi
- Komunikan       : audience, pihak yang menerima pesan
- Umpan Balik     : respon dari komunikan terhadap pesan yang diterimanya
Fungsi  Komunikasi
- Membangun Konsep Diri (Establishing Self-Concept)
- Eksistensi Diri (Self Existence)
- Kelangsungan Hidup (Live Continuity)
- Memperoleh Kebahagiaan (Obtaining Happiness)
- Terhindar dari Tekanan dan Ketegangan (Free from Pressure and Stress)
William I. Gorden, Communication : Personal and Public,1978 
Persepsi : Inti Komunikasi
Persepsi didefinisikan sebagai interpretasi bermakna atas sensasi sebagai representatif obyek eksternal. Proses menafsirkan informasi indrawi. Jika persepsi kita tidak akurat kita tidak munglkin bisa berkomunikasi secara efektif.Rudolp F.Verdeber, Communicate, 1978   

Tidak peduli seberapa berbakatnya seseorang, betapapun unggulnya sebuah produk, atau seberapa kuatnya sebuah kasus hukum, kesuksesan tidak akan pernah diperoleh tanpa penguasaan keterampilan komunikasi yang efektif. Apakah anda sedang mempersiapkan presentasi, negosiasi bisnis, melatih tim voli, membangun sebuah teamwork, bahkan menghadapi ujian akhir gelar sarjana, maka efektifitas komunikasi akan menentukan kesuksesan anda dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Kemampuan anda dalam mengirimkan pesan atau informasi dengan baik, kemampuan menjadi pendengar yang baik, kemampuan atau ketrampilan menggunakan berbagai media atau alat audio visual merupakan bagian penting dalam melaksanakan komunikasi yang efektif.

Kecenderungan para pelajar bosan dalam mengikuti pelajaran adalah cara komunikasi pengajar yang kurang atraktif dan cara mengajar yang monoton. Sehingga pelajar banyak yang mengantuk, canda tawa dengan teman sebelah atau ngobrol. Yang menyebabkan tidak efektifnya belajar mengajar dalam kelas. Memang banyak noise yang membuat belajar mengajar tidak efektif. Tapi hal itu bisa diminimalisir jika pengajar mempunyai cara untuk mendapatkan perhatian dari para muridnya. Mungkin cara mengajarnya bisa diubah sedikit, misalkan pada pelajaran yang memang membuat murid-murid membosankan. Pengajar harus bisa membaca situasi dari raut muka atau gerak-gerik muridnya jika sudah mengalami kebosanan. Bisa diberi sedikit lelucon yang menyangkut paut tentang pelajaran itu sendiri atau gaya mengajar yang memang tidak membuat murid-murid tegang.

Memang tidak semudah membuang ludah untuk melakukan hal tersebut. Butuh latihan untuk para pengajar. Oleh karena itu komunikasi sangat penting dalam hal itu. Jangan biarkan murid-murid berpaling dari pembicaraan pengajar, karena itu segeralah gunakan komunikasi yang efektif, bisa dengan tidak perlu menegor bahkan marah kepada murid-muridnya. Misalkan dengan bercerita yang temanya itu pasti disukai murid-murid, atau bercerita lucu. Banyak cara untuk mendapatkan perhatian dari murid-murid, tapi itu butuh keahlian dari para pengajarnya.

Keterampilan Terpenting dalam Kepemimpinan

Menurut Stephen Covey, justru komunikasi merupakan ketrampilan yang paling penting dalam hidup kita. Kita menghabiskan sebagian besar jam di saat kita sadar dan bangun untuk berkomunikasi. Sama halnya dengan pernafasan, komunikasi kita anggap sebagai hal yang otomatis terjadi begitu saja, sehingga kita tidak memiliki kesadaran untuk melakukannya dengan efektif. Kita tidak pernah dengan secara khusus mempelajari bagaimana menulis dengan efektif, bagaimana membaca dengan cepat dan efektif, bagaimana berbicara secara efektif, apalagi bagaimana menjadi pendengar yang baik. Bahkan untuk yang terakhir, yaitu ketrampilan untuk mendengar tidak pernah diajarkan atau kita pelajari dalam proses pembelajaran yang kita lakukan baik di sekolah formal maupun pendidikan informal lainnya. Bahkan menurut Covey, hanya sedikit orang yang pernah mengikuti pelatihan mendengar. Dan sebagian besar pelatihan tersebut adalah teknik Etika Kepribadian, yang terpotong dari dasar karakter dan dasar hubungan yang mutlak vital bagi pemahaman kita terhadap keberadaan orang lain.

Stephen Covey menekankan konsep kesalingtergantungan (interdependency) untuk menjelaskan hubungan antar manusia. Unsur yang paling penting dalam komunikasi bukan sekedar pada apa yang kita tulis atau kita katakan, tetapi pada karakter kita dan bagaimana kita menyampaikan pesan kepada penerima pesan. Jika kata-kata ataupun tulisan kita dibangun dari teknik hubungan manusia yang dangkal (etika kepribadian), bukan dari diri kita yang paling dalam (etika karakter), orang lain akan melihat atau membaca sikap kita. Jadi syarat utama dalam komunikasi efektif adalah karakter yang kokoh yang dibangun dari fondasi integritas pribadi yang kuat.

Layaknya seorang marketing, seorang marketing harus menjalin hubungan yang baik dengan orang-orang sekitar apalagi orang yang berkaitan dengan kerjaannya, seperti klien. Oleh karena itu harus ada cara untuk melakukan hubungan yang baik dengan orang lain.
Berusaha benar-benar mengerti orang lain. Ini adalah dasar dari apa yang disebut komunikasi empatik. Kita mungkin mengabaikan orang itu dengan tidak serius membangun hubungan yang baik. Kita mungkin berpura-pura. Kita mungkin secara selektif berkomunikasi pada saat kita memerlukannya, atau kita membangun komunikasi yang atentif (penuh perhatian) tetapi tidak benar-benar berasal dari dalam diri kita. Bentuk komunikasi tertinggi adalah komunikasi empatik, yaitu melakukan komunikasi untuk terlebih dahulu mengerti orang lain – memahami karakter dan maksud/tujuan atau peran orang lain. Kebaikan dan sopan santun yang kecil-kecil begitu penting dalam suatu hubungan, hal-hal yang kecil adalah hal-hal yang besar. Memenuhi komitmen atau janji adalah deposito besar; melanggar janji adalah penarikan yang besar. Menjelaskan harapan. Penyebab dari hampir semua kesulitan dalam hubungan berakar di dalam harapan yang bertentangan atau berbeda sekitar peran dan tujuan. Harapan harus dinyatakan secara eksplisit. Meminta maaf dengan tulus ketika Anda membuat penarikan. Memperlihatkan integritas pribadi. Integritas pribadi menghasilkan kepercayaan dan merupakan dasar dari banyak jenis deposito yang berbeda. Integritas merupakan fondasi utama dalam membangun komunikasi yang efektif. Karena tidak ada persahabatan atau teamwork tanpa ada kepercayaan (trust), dan tidak akan ada kepercayaan tanpa ada integritas. Integritas mencakup hal-hal yang lebih dari sekadar kejujuran (honesty). Kejujuran mengatakan kebenaran atau menyesuaikan kata-kata kita dengan realitas. Integritas adalah menyesuaikan realitas dengan kata-kata kita. Integritas bersifat aktif, sedangkan kejujuran bersifat pasif.

Hukum Komunikasi Yang Efektif

5 Hukum Komunikasi Yang Efektif (The 5 Inevitable Laws of Efffective Communication) yang kami kembangkan dan rangkum dalam satu kata yang mencerminkan esensi dari komunikasi itu sendiri yaitu REACH, yang berarti merengkuh atau meraih. Karena sesungguhnya komunikasi itu pada dasarnya adalah upaya bagaimana kita meraih perhatian, cinta kasih, minat, kepedulian, simpati, tanggapan, maupun respon positif dari orang lain.
Respect
Hukum pertama dalam mengembangkan komunikasi yang efektif adalah sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita sampaikan.
Rasa hormat dan saling menghargai merupakan hukum yang pertama dalam kita berkomunikasi dengan orang lain. Ingatlah bahwa pada prinsipnya manusia ingin dihargai dan dianggap penting. Jika kita bahkan harus mengkritik atau memarahi seseorang, lakukan dengan penuh respek terhadap harga diri dan kebanggaaan seseorang. Jika kita membangun komunikasi dengan rasa dan sikap saling menghargai dan menghormati, maka kita dapat membangun kerjasama yang menghasilkan sinergi yang akan meningkatkan efektifitas kinerja kita baik sebagai individu maupun secara keseluruhan sebagai sebuah tim.
Bahkan menurut mahaguru komunikasi Dale Carnegie dalam bukunya How to Win Friends and Influence People, rahasia terbesar yang merupakan salah satu prinsip dasar dalam berurusan dengan manusia adalah dengan memberikan penghargaan yang jujur dan tulus. Seorang ahli psikologi yang sangat terkenal William James juga mengatakan bahwa "Prinsip paling dalam pada sifat dasar manusia adalah kebutuhan untuk dihargai." Dia mengatakan ini sebagai suatu kebutuhan (bukan harapan ataupun keinginan yang bisa ditunda atau tidak harus dipenuhi), yang harus dipenuhi. Ini adalah suatu rasa lapar manusia yang tak terperikan dan tak tergoyahkan. Lebih jauh Carnegie mengatakan bahwa setiap individu yang dapat memuaskan kelaparan hati ini akan menggenggam orang dalam telapak tangannya.
Charles Schwabb, salah satu orang pertama dalam sejarah perusahaan Amerika yang mendapat gaji lebih dari satu juta dolar setahun, mengatakan bahwa aset paling besar yang dia miliki adalah kemampuannya dalam membangkitkan antusiasme pada orang lain. Dan cara untuk membangkitkan antusiasme dan mendorong orang lain melakukan hal-hal terbaik adalah dengan memberi penghargaan yang tulus. Hal ini pula yang menjadi satu dari tiga rahasia manajer satu menit dalam buku Ken Blanchard dan Spencer Johnson, The One Minute Manager.
Empathy
Empati adalah kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Salah satu prasyarat utama dalam memiliki sikap empati adalah kemampuan kita untuk mendengarkan atau mengerti terlebih dulu sebelum didengarkan atau dimengerti oleh orang lain.
Secara khusus Covey menaruh kemampuan untuk mendengarkan sebagai salah satu dari 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif, yaitu kebiasaan untuk mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti (Seek First to Understand -
understand then be understood to build the skills of empathetic listening that inspires openness and trust). Inilah yang disebutnya dengan Komunikasi Empatik. Dengan memahami dan mendengar orang lain terlebih dahulu, kita dapat membangun keterbukaan dan kepercayaan yang kita perlukan dalam membangun kerjasama atau sinergi dengan orang lain.
Rasa empati akan memampukan kita untuk dapat menyampaikan pesan (message) dengan cara dan sikap yang akan memudahkan penerima pesan (receiver) menerimanya. Oleh karena itu dalam ilmu pemasaran (marketing) memahami perilaku konsumen (consumer's behavior) merupakan keharusan. Dengan memahami perilaku konsumen, maka kita dapat empati dengan apa yang menjadi kebutuhan, keinginan, minat, harapan dan kesenangan dari konsumen. Demikian halnya dengan bentuk komunikasi lainnya, misalnya komunikasi dalam membangun kerjasama tim. Kita perlu saling memahami dan mengerti keberadaan orang lain dalam tim kita. Rasa empati akan menimbulkan respek atau penghargaan, dan rasa respek akan membangun kepercayaan yang merupakan unsur utama dalam membangun teamwork.
Jadi sebelum kita membangun komunikasi atau mengirimkan pesan, kita perlu mengerti dan memahami dengan empati calon penerima pesan kita. Sehingga nantinya pesan kita akan dapat tersampaikan tanpa ada halangan psikologis atau penolakan dari penerima.
Empati bisa juga berarti kemampuan untuk mendengar dan bersikap perseptif atau siap menerima masukan ataupun umpan balik apapun dengan sikap yang positif. Banyak sekali dari kita yang tidak mau mendengarkan saran, masukan apalagi kritik dari orang lain. Padahal esensi dari komunikasi adalah aliran dua arah. Komunikasi satu arah tidak akan efektif manakala tidak ada umpan balik (feedback) yang merupakan arus balik dari penerima pesan. Oleh
karena itu dalam kegiatan komunikasi pemasaran above the lines (mass media advertising) diperlukan kemampuan untuk mendengar dan menangkap umpan balik dari audiensi atau penerima pesan.
Audible
Makna dari audible antara lain: dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik. Jika empati berarti kita harus mendengar terlebih dahulu ataupun mampu menerima umpan balik dengan baik, maka audible berarti pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh penerima pesan. Hukum ini mengatakan bahwa pesan harus disampaikan melalui media atau delivery channel sedemikian hingga dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan. Hukum ini mengacu pada kemampuan kita untuk menggunakan berbagai media maupun perlengkapan atau alat bantu audio visual yang akan membantu kita agar pesan yang kita sampaikan dapat diterima dengan baik. Dalam komunikasi personal hal ini berarti bahwa pesan disampaikan dengan cara atau sikap yang dapat diterima oleh penerima pesan.
Clarity
Selain bahwa pesan harus dapat dimengerti dengan baik, maka hukum keempat yang terkait dengan itu adalah kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Ketika saya bekerja di Sekretariat Negara, hal ini merupakan hukum yang paling utama dalam menyiapkan korespondensi tingkat tinggi.
Karena kesalahan penafsiran atau pesan yang dapat menimbulkan berbagai penafsiran akan menimbulkan dampak yang tidak sederhana.
Clarity dapat pula berarti keterbukaan dan transparansi. Dalam berkomunikasi kita perlu mengembangkan sikap terbuka (tidak ada yang ditutupi atau disembunyikan), sehingga dapat menimbulkan rasa percaya (trust) dari penerima pesan atau anggota tim kita. Karena tanpa keterbukaan akan timbul sikap saling curiga dan pada gilirannya akan menurunkan semangat dan antusiasme kelompok atau tim kita.
Humble
Hukum kelima dalam membangun komunikasi yang efektif adalah sikap rendah hati. Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan hukum pertama untuk membangun rasa menghargai orang lain, biasanya didasari oleh sikap rendah
hati yang kita miliki. Dalam edisi Mandiri 32 Sikap Rendah Hati pernah kita bahas, yang pada intinya antara lain: sikap yang penuh melayani (dalam bahasa pemasaran Customer First Attitude), sikap menghargai, mau mendengar
dan menerima kritik, tidak sombong dan memandang rendah orang lain, berani mengakui kesalahan, rela memaafkan, lemah lembut dan penuh pengendalian diri, serta mengutamakan kepentingan yang lebih besar.
Jika komunikasi yang kita bangun didasarkan pada lima hukum pokok komunikasi yang efektif ini, maka kita dapat menjadi seorang komunikator yang handal dan pada gilirannya dapat membangun jaringan hubungan dengan orang lain yang penuh dengan penghargaan (respect), karena inilah yang dapat membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan dan saling menguatkan.



Rabu, 27 Oktober 2010

Bernegosiasi




Semua manusia sering melakukan negosiasi. Karena manusia saling berkomunikasi dengan manusia yang lainnya, kadang kala tidak selalu positif hasilnya. Keinginan kunci utama timbulnya negosiasi. Misalkan seorang anak sebut saja ben, ben ingin membeli barang, ben akan memikirkan dahulu apakah uangnya cukup. Nah dari pertanyaan itulah timbul negosiasi, jika uangnya tidak cukup ben sudah menyiapkan alasan untuk minta uang kepada orang tuanya. Demi mendapatkan barang itu ben melakukan negosiasi dengan orang tuanya. Misalkan jika barang itu dibelikan, ben akan berjanji mendapatkan nilai yang terbaik. Jadi ketika ada keinginan maka disitu timbul negosiasi.

Lalu pengertian negosiasi itu sebenarnya apa. Menurut saya proses menemukan hasil kesepakatan diantara dua belah pihak dari pertentangan dan perbedaan yang masing-masing pihak inginkan. Menurut Oliver, negosiasi adalah sebuah transaksi dimana kedua belah pihak mempunyai hak atas hasil akhir. Hal ini memerlukan persetujuan kedua belah pihak sehingga terjadi proses yang saling memberi dan menerima sesuatu untuk mencapai suatu kesepakatan bersama. Dari beberapa pengertian diatas, dapat dikemukakan bahwa suatu proses negosiasi selalu melibatkan dua orang atau lebih yang saling berinteraksi, mencari suatu kesepakatan kedua belah pihak dan mencapai tujuan yang dikehendaki bersama yang terlibat dalam negosiasi.

Menurut Hartman, pengertian negosiasi dapat berbeda-beda tergantung dari sudut pandang siapa yang terlibat dalam suatu negosiasi. Dalam hal ini, ada dua pihak yang berkepentingan dalam bernegosiasi, yaitu pembeli dan penjual. Bagi pihak pembeli, negosiasi merupakan seni membeli sampanye Prancis yang berkualitas baik dengan harga sebotol bir. Sementara bagi penjual, negosiasi merupakan seni menjual mobil mewah kepada pembeli yang berpura-pura hanya bisa membeli mobil kelas dua.
Lebih lanjut Hartman menegaskan bahwa negosiasi merupakan suatu proses komunikasi antara dua pihak yang masing-masing mempunyai tujuan dan sudut pandang mereka sendiri, yang berusaha mencapai kesepakatan yang memuaskan kedua belah pihak mengenai masalah yang sama.

Negoisasi sangat unik untuk dipelajari. Tanpa belajar jadi seorang negosiator saja kita sudah bisa bernegosiasi. Saat menghadapi penjual kita tidak boleh menyerah pada asumsi si penjual itu. Asumsi adalah sesuatu yang diciptakan oleh otak kita, dan kita anggap sebagai kebenaran, tanpa pernah mengujicoba apakah memang ia benar. Biasanya kita mendapatkan pertanyaan atau pernyataan dari penjual tersebut yang membuat kita tidak yakin. Seperti “terus-terang saja mas, saya untungnya pas-pasan, yang penting asal laku saja. Kita hanya perlu bicara sedikit saja tapi dapat mempengaruhi.
Negosiasi hampir mirip dengan lobi. Keduanya sama-sama diantara dua belah pihak hanya saja lobi lebih untuk mempengaruhi agar pihak kedua bisa mengikuti apa yang pihak satu inginkan. Saya pun masih sulit untuk membedakan keduanya. Misalkan saat tawar menawar harga barang yang ingin saya beli. Jika belum tercantum harga saya akan bertanya “Nih brp harganya Mba?”. Jika saya menawar saya melakukan lobi kepada mba itu agar harga barang sesuai yang saya inginkan. Jika tidak langsung sesuai misalkan “wah gak bisa Mas,kalau segitu saya bisa rugi ntar” nah jika berkepanjangan seperti itu sampai menemukan titik temu yaitu harga yang pas bagi saya dan penjual, saat itulah saya sedang melakukan negosiasi.
Dalam bidang penjualan barang dan jasa, harga merupakan masalah yang
paling sering di negosiasikan, masalah lainnya meliputi, waktu penyelesaian
kontrak, mutu barang dan jasa yang ditawarkan, volume pembelian, tanggung
jawab pembiayaan, pengambilan risiko, promosi, dan hak serta keamanan produk. Menurut Philip Kotler, negosiasi mempunyai karakteristik sebagai berikut:
a. Terdapat dua pihak yang terlibat;
b. Pihak tersebut mempunyai perbedaan kepentingan dalam satu masalah atau
lebih;
c. Pihak-pihak tersebut bergabung bersama untuk sementara waktu dalam suatu
hubungan khusus yang sifatnya sukarela;
d. Aktivitas tersebut menyangkut pembagian atau pertukaran satu sumber daya
atau lebih dan/atau resolusi mengenai satu masalah tidak berwujud antara
pihak tersebut atau yang mereka wakili;
e. Aktivitas tersebut meliputi presentasi permintaan atau usulan oleh pihak dan
evaluasi oleh pihak lainnya diikuti dengan kesepakatan dan usulan balasan
dan aktivitas tersebut berurutan;
Menurut Bill Scoot, negosiasi adalah bentuk pertemuan antara dua pihak
yaitu kita dan pihak lain, sasaran dari negosiasi tersebut adalah tercapainya suatu
persetujuan.
Negosiasi terjadi bisa kapan saja. Yang penting ada kebutuhan diantara dua belah pihak. Kalau menurut Lee dan Dobler membuat beberapa daftar keadaan yang pada keadaan ini negosiasi merupakan prosedur yang tepat untuk dapat menutup penjualan :
• Ketika banyak faktor berperan, bukan hanya harga, tapi juga mutu dan pelayanan.
• Ketika risiko bisnis tidak dapat ditentukan sebelumnya dengan tepat.
• Ketika dibutuhkan jangka waktu lama untuk memproduksi barang yang dibutuhkan.
• Ketika produksi sering terganggu karena banyaknya perubahan pesanan

Negosiasi perlu memiliki kualitas dan keahlian tertentu agar dapat efektif, yaitu
keahlian mempersiapkan dan merencanakan, pengetahuan mengenai masalah
yang dinegosiasikan/dirundingkan, kemampuan untuk berpikir dengan jelas dan
cepat dalam tekanan dan ketidakpastian, integritas, kemampuan untuk membujuk
pihak lain serta kesabaran. Negosiasi membutuhkan proses. Hal apa saja yang perlu dipersiapkan dalam bernegosiasi agar memperoleh hasil yang maksimal. Menurut Casse, ada tiga tahapan penting dalam bernegosiasi, yakni : tahap perencanaan/planning phase (sebelum negosiasi), tahap implementasi/implementation phase (selama negosiasi) dan tahap peninjauan/reviewing phase (setelah negosiasi).
1. Tahap Perencanaan.
Tahap perencanaan membutuhkan tiga tugas utama, yaitu merencanakan sasaran negosiasi Anda, memutuskan strategi Anda dan memperjelas proses negosiasi.
Sasaran negosiasi adalah apa hasil yang diharapkan dalam bernegosiasi. Hal ini merupakan salah satu alasan utama mengapa seseorang bernegosiasi. Ada beberapa sasaran yang secara umum terdapat dalam sebuah proses negosiasi.
a) BATNA (Best Alternative to Negotiated Agreement)
Langkah-langkah atau alternatif-alternatif yang akan dilakukan oleh seorang negosiator bila negosiasi tidak mencapai kesepakatan. Misalnya, bila pasal mengenai besarnya pesangon yang harus diberikan dalam proses PHK yang diajukan oleh pengusaha tidak dapat disepakati oleh pihak serikat pekerja, maka negosiator dari pihak pengusaha mempunyai dua pilihan, yaitu mencoba melakukan penawaran dengan pasal mengenai penembahan cuti atau meninggalkan perundingan bila tidak ada tanda-tanda positif dari paara perunding pihak pekerja untuk mau beranjak dari posisinya saat ini.
b) Reservation Price (nilai tawar terendah yang dapat diterima sebagai sebuah kesepakatan). Misalnya, negosiator dari pihak pekerja akan menyepakati hasil perundingan secara keseluruhan apabila (setidaknya) minimun 5 dari 10 usulan mereka dapat diterima oleh pihak perusahaan.
c) ZOPA (Zona of Possible Agreement) – area yg memungkinkan terjadinya kesepakatan dalam proses negosiasi. Misalnya, target UMR uang dikehendaki oleh pihak pekerja adalah Ro 1.000.000,- sedangkan reservation price-nya adalah Rp 750.000. sedangkan target UMR yang dikehendaki oleh pihak pengusaha adalah Rp 650.000,- dan reservation price-nya adalah 850.000. zona antara Rp 750.000 dan Rp 850.000,- adalah ZOPA.

2. Tahap Implemantasi
Tahap implementasi merupakan tahap penerapan atau tindakan yang diperlukan agar mencapai sukses dalam negosiasi. Oleh karenanya, tahapan ini bukan lagi wacana atau ide, tetapi sudah berada pada tahapan perilaku dan tindakan yang diperlukan dalam bernegosiasi. Ada beberapa taktik negosiasi yang sering digunakan.
a) Taktik cara Anda
Yang dimaksud dengan taktik cara Anda adalah bahwa Anda tahu tujuan yang ingin dicapai, Anda bersikeras dan memaksa pihak lawan agar percaya bahwa Andalah yang benar, Andalah yang berinisiatif dan mempertahankannya, Anda yang mengendalikan proses negosiasi dan Anda terus menekan.
b) Taktik Bekerja sama
Taktik ini menegaskan bahwa Anda mau mendengarkan pihak lawan dan mengetahui apa yang ada dalam benak mereka, Andalah yang memutuskan untuk bersikap reaktif (bukan proaktif), siap bekerja sama jika proposal pihak lawan sejalan dengan sasaran Anda, Anda setuju tidak setuju dan kadang-kadang mengembangkan ide mereka dan kemudian Anda membuat mereka berhasil.
c) Taktik tidak berbuat apa
Taktik ini merupakan sikap keras kepala dalam bernegosiasi. Dalam hal ini Anda tetap bersikukuh pada pendirian Anda sebelumnya dan tidak mudah berubah. Taktik ini dilakukan karena Anda ingin mempertimbangkan sesuatu, salah satu trik mengulur waktu, upaya membuat pihak lawan gugup atau grogi danAnda percaya inilah saatnya untuk menilai secara persepektif.
d) Taktik melangkah ke tujuan lain
Taktik ini menuntut Andalah yang harus aktif menggeser suatu persoalan ke persoalan lain. Andalah yang memang mencoba untuk menghindar dari suatu persoalan agar tidak dibahas lagi. Taktik ini diambil dengan beberapa alasan, misalnya : Anda punya peluang untuk memenangkan negosiasi saat ini, pihak lain justru yang akan memperoleh peluang memenangkan negosiasi bila suatu persoalan dibahas lagi, waktunya tidak tepat atau adanya kesepakatan lain yang perlu dibahas dulu.

3. Tahap Peninjauan Kembali
Tahapan ini merupakan tahapan setelah berlangsungnya suatu proses negosiasi. Tahapan ini mempunyai arti penting bagi seorang negosiator dalam meninjau kembali apa yang sudah dilakukannya selama bernegosiasi. Sehingga Anda bisa mengukur sejauh mana keberhasilan negosiasi Anda dengan cara memeriksa apakah tujuan Anda sudah tercapai atau belum.

Rabu, 13 Oktober 2010

Konflik Intrapersonal

Konflik Intrapersonal Dapat Pengaruhi Orang Lain

Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.









Kalau kita lihat dan mengingat-ingat lagi di Indonesia banyak sekali terjadi konflik. Seperti yang sering kita tonton berita di TV. Ntah itu konflik dengan Negara lain atau konflik masyarakat di Indonesia dan masih banyak lagi. Contohnya konflik Indonesia dengan Malaysia, pedagang kaki lima dengan Satpol PP dan konflik lain yang jika saya sebutkan satu persatu tidak akan mulai pembahasan yang saya angkat. Konflik bisa menyulut pertikaian jika pihak-pihak yang berkaitan tidak mempunyai jalan terbaik dalam pemecahannya. Konflik yang terjadi di Indonesia jika saya pantau dan saya lihat di layar kaca televisi banyak berakhir dengan pertikaian atau kekerasan. Apa memang hasil akhirnya harus begitu?. Justru hal tersebut bisa berkepanjangan,jika tidak diselesaikan. Biasanya yang terjadi seperti itu emosi yang sudah menguasai salah satu pihak yang akhirnya menyulut pihal lain. Masih ada konflik lain yang penyelesaian akhirnya tanpa ada kekerasan. Jika lebih sering terjadi kekerasan, memangnya apa sih yang didapat dari pihak-pihak yang berkonflik itu, malah menimbulkan banyak kerugian dari pada keuntungan.

Mungkin tulisan saya ini aneh, ngaco, gak nyambung bahkan salah dan menimbulkan pertanyaan “ni orang nulis apa sih?”. Tapi saya hanya mencoba hal yang aneh itu menjadi hal yang baru, namanya juga proses wajarlah kalo salah kan manusia tak luput dari kesalahan. Yaa kali aja perbedaan ini membuat perubahan dan bisa di terima. Amiin haha.

Menurut saya konflik adalah pertentangan pandangan yang dimiliki seseorang karena apa yang sedang terjadi pada dirinya terhadap yang lain. Kalau saya menelaah konflik terjadi bukan hanya individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok atau organisasi dengan organisasi. Memang hal itu yang sering terjadi dan sering kita lihat di televisi, kita baca di Koran dan kita dengar dari orang lain. Saya akan membahas konflik dalam ruang lingkup yang lebih kecil, tidak usah jauh-jauh sekitar kita saja pasti ada konflik. Dimana sebuah pertemanan bisa dipengaruhi oleh konflik salah satu dari mereka terhadap hal lain, yang saya maksudkan adalah konflik intrapersonal. Kenapa kasus ini yang saya angkat? Padahal kan banyak kasus-kasus yang terjadi di Indonesia. Karena menurut saya, mungkin kita tidak pernah sadari bahwa diri kita ini sering mengalami konflik intrapersonal. Tapi jujur saja saya malas mengambil topik yang sudah ada dan mengurusi dunia yang bukan kapasitas saya untuk membahas dan menemukan cara penyelesaiannya. Karena sudah banyak pakar yang sudah menganalisa masalah tersebut. Kalau hanya beragumen saja saya bisa tapi untuk membahas lebih dalam lagi saya memiliki keterbatasan.

Saya juga belum tahu ada tidak sih konflik intrapersonal. Masalahnya konflik terjadi karena interaksi yang disebut komunikasi. Komunikasi itu kan bermacam-macam, ada komunikasi intrapersonal, komunikasi interpersonal sampai komunikasi massa. Justru konflik yang sering dibahas mulai dari konflik interpersonal sampai massa. Ketika saya coba mengetikan pengertian konflik intrapersonal di Google yang saya dapatkan hanya tulisan “mungkin maksud Anda konflik interpersonal” jika coba konflik yang lain akan muncul banyak opsi-opsi, tidak percaya? Bisa Anda coba!. Lalu kenapa yaa setiap saya menuliskan konflik intrapersonal tulisan itu selalu muncul? saya tidak mengerti. Apa mungkin karena pembahasannya kurang menarik?atau apa karena konflik itu terlalu privasi jadi hanya pakar khusus lah yang membahas. Orang-orang yang berkonsultasi kepada psikolog adalah orang yang sedang mengalami konflik dan mereka meminta saran serta jalan keluarnya. Kebanyakan mereka yang datang mempunyai masalah yang sangat privasi.

Kalau tiap saya kuliah,saya sering memperhatikan teman perempuan, kebanyakan dari mereka kalau mau kemana-mana orangnya itu-itu saja, mulai dari masuk kelas, keluar kelas, ke kantin bahkan ke WCpun lahh dia dia aja orangnya. Entah mereka bersahabat atau menutup pertemanan yang akrab dengan yang lain. Hal tersebut lebih terlihat seperti gank atau berkelompok. Biasanya ada orang yang sangat berpengaruh di dalamnya, ntah itu karena apa dan saya tidak membahas hal tersebut. Pernah gak kita merasakan apa yang namanya dilema? Atau pernahkah kita merasa kecewa atau menyesal terhadap keputusan yang telah kita ambil. Nah pada saat itulah menurut saya diri kita terjadi konflik. Dimana terjadi perbandingan dalam diri kita untuk memilah dan menilai yang mana yang baik untuk diri kita. Hal itu yang saya namakan konflik intrapersonal.

Saya juga sering mengalami konflik intrapersonal dan Anda juga pasti engeh dengan hal itu. Saya mahasiswa jurusan marcomm and advertising. Pada saat semester 5 jurusan itu di pisahkan menjadi marketing dan kreatif. Dimana pada saat itu saya bingung harus memilih yang mana yang mungkin orang katakan itu adalah sebuah dilemma, tapi bagi saya itu sebuah konflik yang terjadi dalam diri saya. Yang saya lakukan mempertimbangkan diantara kedua itu, ntah itu kendala internal maupun eksternal dan memilah-milah mana yang terbaik untuk saya. Konflik dalam diri ini bisa sangat berbahaya jika tidak diantisipasi. Ada orang yang bisa jadi stress bahkan gila karena selalu memendam konflik didalam dirinya tanpa tau jalan keluarnya. Jika permasalahannya sangat berat kita bisa kok datang kepada orang yang ahli dalam bidangnya seperti para psikolog. Dari pada dipendam sehingga menumpuk dengan hal lain akan lebih baik jika kita share.

Sekarang saya dapat mata kuliah interpersonal skill, dimana mata kuliah itu saya dituntut harus bisa mengikuti, aktif dan reaktif. Awal masuk mata kuliah itu kami sekelas sudah diuji mentalnya. Sang dosen langsung memberikan tugas, dan dijabarkanlah itu tugas itu. Tugasnya sih sepele tapi kalau saya kaget, “waduh ribet amat tuh tugasnya”. Tapi saya tidak mau kalah sebelum berperang yang saya mau adalah berperang sebelum menang. Andai saja saya tidak mempunyai keyakinan kalau saya bisa mengikuti mata kuliah itu mungkin saya akan bernasib sama seperti teman saya yang kalah sebelum berperang. Inilah timbulnya konflik intrapersonal. Ada beberapa teman saya yang perempuan mengundurkan diri dari mata kuliah tersebut. Tapi yang membuat saya heran adalah mereka itu seperti yang saya bahas sebelumnya, yang selalu bersama. Entah karena kompak atau karena memang masing-masing dari mereka tidak mampu untuk mengikuti. Tapi pendapat saya pasti ada salah satu penyulutnya. Saya tau kenapa mereka mengundurkan diri, karena pada hari pertama saya juga berada bersama mereka untuk konsultasi dengan dosen. Salah satu dari mereka ada yang agak bawel karena temannya yang lain hanya diam saja. Kalau tidak salah dia mengatakan seperti ini “iya bu harusnya saya mengambil matkul lain”. Pada dirinya itu sedang terjadi konflik intrapersonal, ia merasa tidak mampu mengikuti kontrak perkuliahan, tetapi yang saya tekankan disini cara penyelesainnya saja yang menurut saya kurang benar. Kenapa harus menundurkan diri?kalau saja dia berfikir “gw gak akan bisa lari kemana-mana” maksudnya dia itu pasti akan ketemu mata kuliah yang sama. Konflik itu berarti muncul karena faktor situasi. Cara penyelesainnya konflik tersebut kita harus menumbuhkan rasa percaya diri, kita harus yakin kita pasti bisa mengikuti matkul tersebut sampai kelar. Pesan saya sih jangan lari dari kenyataan.

Lalu bagaimana dengan temannya yang lain. Saya belum tau pasti alasan dari mereka karena saya harus menanyakannya langsung kepada mereka satu persatu. Tapi setelah beberapa pertemuan saya melihat salah satu dari mereka masih mengikuti matkul tersebut. Berarti dia ingin mempertahankan dan mengatasi konfliknya. Nah dalam pertemanan, konflik intrapersonal dapat pengaruhi yang lain. Pada modul interpersonal skill yang saya dapatkan hal 3 no 4 “beberapa pandangan tentang konflik” disitu ditulis “suatu proses yang terjadi ketika satu pihak secara negatif mempengaruhi pihak lain, dengan melakukan kekerasan fisik yang membuat orang lain perasaan serta fisiknya terganggu” kalau menurut saya tentang pendapat itu, bukan hanya kekerasan fisik saja tapi non fisik juga mempengaruhi. Lalau kenapa bisa dipengaruhi yah oleh salah satu dari mereka. Mungkin karena faktor perasaan yang sama ketika diberikan tugas yang akan dikerjakan oleh mahasiswa. Karena hal tersebutlah kondisi kita jadi mudah terhasut. Jika disulut api maka mereka ikut terbakar apabila tidak mempunyai mental dan pendirian yang kuat. Kalau saja saya yang mengalami itu. Penyelesaian konfliknya dengan cara saya diam-diam membatalkan matkul itu tanpa sepengetahuan teman saya. Dan secara positif saya mempengaruhi teman saya agar melanjutkan mengikuti matkul itu. Ya kalau bisa jangan mengajak menghasut teman pada hal yang sepele.

Kesimpulan
Konflik tidak selamanya berkonotasi buruk, tapi bisa menjadi sumber pengalaman positif (Stewart & Logan, 1993:342). Hal ini dimaksudkan bahwa konflik dapat menjadi sarana pembelajaran dalam memanajemen diri dalam suatu kelompok atau organisasi. Konflik tidak selamanya membawa dampak buruk, tetapi juga memberikan pelajaran dan hikmah Pelajaran itu dapat berupa bagaimana cara menghindari konflik yang sama supaya tidak terulang kembali di masa yang akan datang dan bagaimana cara mengatasi konflik yang sama apabila sewaktu – waktu terjadi kembali.

Sabtu, 25 September 2010

Perjalanan Penuh Warna

Dalam setiap jalan....
Akan ada sebuah pilihan....
Sebuah pilihan yang harus kita tentukan....
Dan itu adalah sebuah keputusan....

Sebuah keputusan....
Adalah sebuah sikap kedewasaan....
Yang ia mengerti akan sebuah jalan....
Yang harus ia tempuh dalam setiap kesempatan....

Sebuah resiko....
Kadang memberi sebuah pelajaran....
Ia adalah bahtera yang terus berjalan....
menyusuri setiap pelosok kegelapan....

Berjalan ku hampiri setiap lorong-lorong malam....
Mencari makna yang belum ku dapatkan....
Ku bersihkan setiap debu yang melekat di setiap hamparan....
Karena ku ingin hanya melihat sebuah kesejukan....

Berteduh ku terdiam di setiap rindangnya pepohonan....
Ku duduk dan ku selami setiap makna kehidupan....
Yang memberi arti bagi setiap insan....
Yang hadir untuk mau berbagi perasaan....

Makna kehidupan....
Selalu memberi arti bagi setiap jiwa yang memikirkan....
Ia adalah rangkaian makna yang tak kan pernah hilang....
Karena ia selalu hadir dengan cinta dan kehangatan....

Rangkaian makna....
Adalah sejuta arti kehidupan....
Yang bisa memberi rasa nyaman....
Rasa kasih sayang dalam kerasnya kehidupan....

Rangkaian makna....
Adalah berjuta makna kehidupan....
Yang tak kan pernah bisa hilang....
Walaupun dalam hentakan kerasnya zaman....