Rabu, 13 Oktober 2010

Konflik Intrapersonal

Konflik Intrapersonal Dapat Pengaruhi Orang Lain

Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.









Kalau kita lihat dan mengingat-ingat lagi di Indonesia banyak sekali terjadi konflik. Seperti yang sering kita tonton berita di TV. Ntah itu konflik dengan Negara lain atau konflik masyarakat di Indonesia dan masih banyak lagi. Contohnya konflik Indonesia dengan Malaysia, pedagang kaki lima dengan Satpol PP dan konflik lain yang jika saya sebutkan satu persatu tidak akan mulai pembahasan yang saya angkat. Konflik bisa menyulut pertikaian jika pihak-pihak yang berkaitan tidak mempunyai jalan terbaik dalam pemecahannya. Konflik yang terjadi di Indonesia jika saya pantau dan saya lihat di layar kaca televisi banyak berakhir dengan pertikaian atau kekerasan. Apa memang hasil akhirnya harus begitu?. Justru hal tersebut bisa berkepanjangan,jika tidak diselesaikan. Biasanya yang terjadi seperti itu emosi yang sudah menguasai salah satu pihak yang akhirnya menyulut pihal lain. Masih ada konflik lain yang penyelesaian akhirnya tanpa ada kekerasan. Jika lebih sering terjadi kekerasan, memangnya apa sih yang didapat dari pihak-pihak yang berkonflik itu, malah menimbulkan banyak kerugian dari pada keuntungan.

Mungkin tulisan saya ini aneh, ngaco, gak nyambung bahkan salah dan menimbulkan pertanyaan “ni orang nulis apa sih?”. Tapi saya hanya mencoba hal yang aneh itu menjadi hal yang baru, namanya juga proses wajarlah kalo salah kan manusia tak luput dari kesalahan. Yaa kali aja perbedaan ini membuat perubahan dan bisa di terima. Amiin haha.

Menurut saya konflik adalah pertentangan pandangan yang dimiliki seseorang karena apa yang sedang terjadi pada dirinya terhadap yang lain. Kalau saya menelaah konflik terjadi bukan hanya individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok atau organisasi dengan organisasi. Memang hal itu yang sering terjadi dan sering kita lihat di televisi, kita baca di Koran dan kita dengar dari orang lain. Saya akan membahas konflik dalam ruang lingkup yang lebih kecil, tidak usah jauh-jauh sekitar kita saja pasti ada konflik. Dimana sebuah pertemanan bisa dipengaruhi oleh konflik salah satu dari mereka terhadap hal lain, yang saya maksudkan adalah konflik intrapersonal. Kenapa kasus ini yang saya angkat? Padahal kan banyak kasus-kasus yang terjadi di Indonesia. Karena menurut saya, mungkin kita tidak pernah sadari bahwa diri kita ini sering mengalami konflik intrapersonal. Tapi jujur saja saya malas mengambil topik yang sudah ada dan mengurusi dunia yang bukan kapasitas saya untuk membahas dan menemukan cara penyelesaiannya. Karena sudah banyak pakar yang sudah menganalisa masalah tersebut. Kalau hanya beragumen saja saya bisa tapi untuk membahas lebih dalam lagi saya memiliki keterbatasan.

Saya juga belum tahu ada tidak sih konflik intrapersonal. Masalahnya konflik terjadi karena interaksi yang disebut komunikasi. Komunikasi itu kan bermacam-macam, ada komunikasi intrapersonal, komunikasi interpersonal sampai komunikasi massa. Justru konflik yang sering dibahas mulai dari konflik interpersonal sampai massa. Ketika saya coba mengetikan pengertian konflik intrapersonal di Google yang saya dapatkan hanya tulisan “mungkin maksud Anda konflik interpersonal” jika coba konflik yang lain akan muncul banyak opsi-opsi, tidak percaya? Bisa Anda coba!. Lalu kenapa yaa setiap saya menuliskan konflik intrapersonal tulisan itu selalu muncul? saya tidak mengerti. Apa mungkin karena pembahasannya kurang menarik?atau apa karena konflik itu terlalu privasi jadi hanya pakar khusus lah yang membahas. Orang-orang yang berkonsultasi kepada psikolog adalah orang yang sedang mengalami konflik dan mereka meminta saran serta jalan keluarnya. Kebanyakan mereka yang datang mempunyai masalah yang sangat privasi.

Kalau tiap saya kuliah,saya sering memperhatikan teman perempuan, kebanyakan dari mereka kalau mau kemana-mana orangnya itu-itu saja, mulai dari masuk kelas, keluar kelas, ke kantin bahkan ke WCpun lahh dia dia aja orangnya. Entah mereka bersahabat atau menutup pertemanan yang akrab dengan yang lain. Hal tersebut lebih terlihat seperti gank atau berkelompok. Biasanya ada orang yang sangat berpengaruh di dalamnya, ntah itu karena apa dan saya tidak membahas hal tersebut. Pernah gak kita merasakan apa yang namanya dilema? Atau pernahkah kita merasa kecewa atau menyesal terhadap keputusan yang telah kita ambil. Nah pada saat itulah menurut saya diri kita terjadi konflik. Dimana terjadi perbandingan dalam diri kita untuk memilah dan menilai yang mana yang baik untuk diri kita. Hal itu yang saya namakan konflik intrapersonal.

Saya juga sering mengalami konflik intrapersonal dan Anda juga pasti engeh dengan hal itu. Saya mahasiswa jurusan marcomm and advertising. Pada saat semester 5 jurusan itu di pisahkan menjadi marketing dan kreatif. Dimana pada saat itu saya bingung harus memilih yang mana yang mungkin orang katakan itu adalah sebuah dilemma, tapi bagi saya itu sebuah konflik yang terjadi dalam diri saya. Yang saya lakukan mempertimbangkan diantara kedua itu, ntah itu kendala internal maupun eksternal dan memilah-milah mana yang terbaik untuk saya. Konflik dalam diri ini bisa sangat berbahaya jika tidak diantisipasi. Ada orang yang bisa jadi stress bahkan gila karena selalu memendam konflik didalam dirinya tanpa tau jalan keluarnya. Jika permasalahannya sangat berat kita bisa kok datang kepada orang yang ahli dalam bidangnya seperti para psikolog. Dari pada dipendam sehingga menumpuk dengan hal lain akan lebih baik jika kita share.

Sekarang saya dapat mata kuliah interpersonal skill, dimana mata kuliah itu saya dituntut harus bisa mengikuti, aktif dan reaktif. Awal masuk mata kuliah itu kami sekelas sudah diuji mentalnya. Sang dosen langsung memberikan tugas, dan dijabarkanlah itu tugas itu. Tugasnya sih sepele tapi kalau saya kaget, “waduh ribet amat tuh tugasnya”. Tapi saya tidak mau kalah sebelum berperang yang saya mau adalah berperang sebelum menang. Andai saja saya tidak mempunyai keyakinan kalau saya bisa mengikuti mata kuliah itu mungkin saya akan bernasib sama seperti teman saya yang kalah sebelum berperang. Inilah timbulnya konflik intrapersonal. Ada beberapa teman saya yang perempuan mengundurkan diri dari mata kuliah tersebut. Tapi yang membuat saya heran adalah mereka itu seperti yang saya bahas sebelumnya, yang selalu bersama. Entah karena kompak atau karena memang masing-masing dari mereka tidak mampu untuk mengikuti. Tapi pendapat saya pasti ada salah satu penyulutnya. Saya tau kenapa mereka mengundurkan diri, karena pada hari pertama saya juga berada bersama mereka untuk konsultasi dengan dosen. Salah satu dari mereka ada yang agak bawel karena temannya yang lain hanya diam saja. Kalau tidak salah dia mengatakan seperti ini “iya bu harusnya saya mengambil matkul lain”. Pada dirinya itu sedang terjadi konflik intrapersonal, ia merasa tidak mampu mengikuti kontrak perkuliahan, tetapi yang saya tekankan disini cara penyelesainnya saja yang menurut saya kurang benar. Kenapa harus menundurkan diri?kalau saja dia berfikir “gw gak akan bisa lari kemana-mana” maksudnya dia itu pasti akan ketemu mata kuliah yang sama. Konflik itu berarti muncul karena faktor situasi. Cara penyelesainnya konflik tersebut kita harus menumbuhkan rasa percaya diri, kita harus yakin kita pasti bisa mengikuti matkul tersebut sampai kelar. Pesan saya sih jangan lari dari kenyataan.

Lalu bagaimana dengan temannya yang lain. Saya belum tau pasti alasan dari mereka karena saya harus menanyakannya langsung kepada mereka satu persatu. Tapi setelah beberapa pertemuan saya melihat salah satu dari mereka masih mengikuti matkul tersebut. Berarti dia ingin mempertahankan dan mengatasi konfliknya. Nah dalam pertemanan, konflik intrapersonal dapat pengaruhi yang lain. Pada modul interpersonal skill yang saya dapatkan hal 3 no 4 “beberapa pandangan tentang konflik” disitu ditulis “suatu proses yang terjadi ketika satu pihak secara negatif mempengaruhi pihak lain, dengan melakukan kekerasan fisik yang membuat orang lain perasaan serta fisiknya terganggu” kalau menurut saya tentang pendapat itu, bukan hanya kekerasan fisik saja tapi non fisik juga mempengaruhi. Lalau kenapa bisa dipengaruhi yah oleh salah satu dari mereka. Mungkin karena faktor perasaan yang sama ketika diberikan tugas yang akan dikerjakan oleh mahasiswa. Karena hal tersebutlah kondisi kita jadi mudah terhasut. Jika disulut api maka mereka ikut terbakar apabila tidak mempunyai mental dan pendirian yang kuat. Kalau saja saya yang mengalami itu. Penyelesaian konfliknya dengan cara saya diam-diam membatalkan matkul itu tanpa sepengetahuan teman saya. Dan secara positif saya mempengaruhi teman saya agar melanjutkan mengikuti matkul itu. Ya kalau bisa jangan mengajak menghasut teman pada hal yang sepele.

Kesimpulan
Konflik tidak selamanya berkonotasi buruk, tapi bisa menjadi sumber pengalaman positif (Stewart & Logan, 1993:342). Hal ini dimaksudkan bahwa konflik dapat menjadi sarana pembelajaran dalam memanajemen diri dalam suatu kelompok atau organisasi. Konflik tidak selamanya membawa dampak buruk, tetapi juga memberikan pelajaran dan hikmah Pelajaran itu dapat berupa bagaimana cara menghindari konflik yang sama supaya tidak terulang kembali di masa yang akan datang dan bagaimana cara mengatasi konflik yang sama apabila sewaktu – waktu terjadi kembali.