Latar Belakang Masalah
There is no passion to be found in playing small-in settling for a life thet is less that what you are capable of living salah satu ungkapan kata dari Nelson Mandela. Kadang saya sudah merasa mengerjakan apapun dengan maksimal, tetapi hidup saya tetap tidak menjadi lebih baik. Ucapan seperti itu merupakan keluhan hati, kadang saya sering ragu akan kemampuan diri sendiri untuk membuat perubahan. Jangankan membuat perubahan untuk lingkungan, membuat perubahan dalam hidup saya pun merasa tidak mampu. Sepertinya saya terperangkap didalam lubang yang sangat dalam, yang sulit untuk dipanjat.
Bagaimana bisa untuk menjadi seorang pemimpin kalau saya merasa tidak mampu. Disinilah saya sering kali lupa bahwa kita adalah manusia, makhluk Tuhan yang paling sempurna. Dalam diri setiap manusia sudah dibekali kemampuan untuk melakukan hal-hal besar. Rasullullah saw.diturunkan kebumi sebagai pemimpin, bagaimana kita bisa menjadi seperti dia, walau memang kita tidak mungkin sama seperti Rasullullah. Hidup ini singkat jadi berikanlah yang terbaik.
Untuk bisa memimpin orang lain, hendaknya sebelum itu kita harus bisa memimpin diri sendiri dan mengelola hidup. Sebagai seorang pemimpin seharusnya bisa menempatkan dirinya pada situasi yang tepat. Setiap orang adalah pemimpin karena setiap orang mempunyai tanggung jawab masing-masing, siapapun Anda, apapun pekerjaan Anda, apapun peran Anda.
Sudah menjadi suatu hal yang mutlak bahwa dalam suatu organisasi harus memiliki pemimpin. Hal itu pun tidak cukup sampai disitu. Akan tetapi organisasi yang sukses harus memiliki pemimpin yang efektif. Masalahnya adalah bahwa atasan belum tentu seorang pemimpin. Atasan merupakan jenjang dalam suatu jabatan, sedangkan pemimpin harus mempunyai kecakapan-kecakapan tertentu dan hal ini tidak hanya dimiliki oleh seorang atasan saja. Oleh karena itu agar menjadi pemimpin, ia mutlak memiliki kemampuan untuk membina kelompok kerjanya sehingga sasaran perusahaan dapat tercapai.
Keinginan para pimpinan untuk mentransfer pengetahuan (knowledge & psikomotor) kepada para bawahan dan rekan sekerjanya, kadang tidak terealisasikan. Hal ini disebabkan oleh karena pimpinan itu tidak paham bagaimana mengajar/membimbing dengan efektif. Atau karena bagi orang yang dibimbing materi yang disampaikan oleh pimpinan kurang dimengerti, padahal materi yang disampaikan oleh pimpinan itu sangat berbobot. Kemudian yang timbul adalah adanya mis-komunikasi diantara pimpinan dan bawahan. Sehingga proses interaksi diantara mereka menjadi rentan. Maka dari itu dengan menguasai konsep belajar mengajar, dibarengi dengan pelatihan yang memadai, keinginan dan harapan perusahaan akan menjadi kenyataan.
Jadi Pemimpin Yang Ideal
Dalam bahasa Indonesia "pemimpin" sering disebut penghulu, pemuka, pelopor, pembina, panutan, pembimbing, pengurus, penggerak, ketua, kepala, penuntun, raja, tua-tua, dan sebagainya. Sedangkan istilah Memimpin digunakan dalam konteks hasil penggunaan peran seseorang berkaitan dengan kemampuannya mempengaruhi orang lain dengan berbagai cara. Istilah pemimpin, kemimpinan, dan memimpin pada mulanya berasal dari kata dasar yang sama "pimpin". Namun demikian ketiganya digunakan dalam konteks yang berbeda.
Kepemimpinan adalah kemampuan untuk menentukan kemana hidup akan kita arahkan, apa-apa saja yang ingin kita lakukan dalam hidup ini, dan jalan mana yang harus kita tempuh untuk mencapainya. Pemimpin Ideal adalah Pemimpin yang dapat berkomunikasi secara efektif dalam situasi apapun dan bijaksana.
Arti pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan/ kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan. Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan - khususnya kecakapan-kelebihan di satu bidang , sehingga dia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk pencapaian satu beberapa tujuan. (Kartini Kartono, 1994 : 181).
Seorang pemimpin adalah seorang yang memiliki orang-orang yang mendukungnya yang turut membesarkan nama sang pimpinan. Pengaruh ini menjadikan
sang pemimpin diikuti dan membuat orang lain tunduk pada apa yang dikatakan sang
pemimpin. John C. Maxwell, penulis buku-buku kepemimpinan pernah berkata:
Leadership is Influence (Kepemimpinan adalah soal pengaruh). Mother Teresa dan Lady
Diana adalah contoh kriteria seorang pemimpin yang punya pengaruh
sang pemimpin diikuti dan membuat orang lain tunduk pada apa yang dikatakan sang
pemimpin. John C. Maxwell, penulis buku-buku kepemimpinan pernah berkata:
Leadership is Influence (Kepemimpinan adalah soal pengaruh). Mother Teresa dan Lady
Diana adalah contoh kriteria seorang pemimpin yang punya pengaruh
Sifat Seorang Pemimpin
Di dalam Islam seorang pemimpin haruslah mempunyai sifat:
1. S1DDIQ artinya jujur, benar, berintegritas tinggi dan terjaga dari kesalahan
2. FATHONAH artinya jerdas, memiliki intelektualitas tinggi dan professional
3. AMANAH artinya dapat dipercaya, memiliki legitimasi dan akuntabel
4. TABLIGH artinya senantiasa menyammpaikan risalah kebenaran, tidak pernah menyembunyikan apa yang wajib disampaikan, dan komunikatif. Dalam amanatnya mengenai masalah kepemimpinan berdasarkan falsafah Panca Sila, Jenderal Soeharto menyimpulkan beberapa sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin,
1. S1DDIQ artinya jujur, benar, berintegritas tinggi dan terjaga dari kesalahan
2. FATHONAH artinya jerdas, memiliki intelektualitas tinggi dan professional
3. AMANAH artinya dapat dipercaya, memiliki legitimasi dan akuntabel
4. TABLIGH artinya senantiasa menyammpaikan risalah kebenaran, tidak pernah menyembunyikan apa yang wajib disampaikan, dan komunikatif. Dalam amanatnya mengenai masalah kepemimpinan berdasarkan falsafah Panca Sila, Jenderal Soeharto menyimpulkan beberapa sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin,
- Ketuhanan Yang Maha Esa, yaitu kesadaran beragama dan beriman teguh
- Hing ngarsa sung tulada, yaitu memberi suri-tauladan yang baik di hadapan anak buah.
- Hing madya mangun karsa, yaitu bergiat dan menggugah semangat di tengah-tengah masyarakat (anak buah).
- Tut Wuri handayani, yaitu memberi pengaruh baik dan mendorong dari belakang kepada anak buah.
- Waspada purba wisesa, yaitu mengawasi dan berani mengoreksi anak buah.
- Ambeg parama arta, yaitu memilih dengan tepat mana yang harus didahulukan.
- Prasaja, yaitu bertingkah laku yang sederhana dan tidak berlebih-lebihan
- Satya, yaitu sikap loyal timbal balik dari atasan terhadap bawahan, dari bawahan terhadap atasan dan juga ke samping.
- Hemat, yaitu kesadaran dan kemampuan membatasi penggunaan dan pengeluaran segala sesuatu untuk keperluan yang benar-benar penting.
- Sifat terbuka, yaitu kemauan, kerelaan, keikhlasan, dan keberanian untuk mempertanggung jawabkan tindakan-tindakannya.
- Penerusan, yaitu kemauan, kerelaan, dan keikhlasan untuk pada saatnya menyerahkan tugas dan tanggung jawab serta kedudukan kepada generasi muda guna diteruskannya.
Tipe-tipe Pemimpin
Daniel Goleman membagi tipe-tipe kepemimpinan menjadi 6 tipe kepemimpinan yaitu :
1. Visionary, kepemimpinan yang memiliki Visi sehingga mampu membawa staf ketujuan bersama
2. Coaching, kepemimpinan yang memberikan kesempatan pengasuhan ataupun pembelajaran
3. Affiliate, kepemimpinan yang mengedepankan keharmonisan ataupun kerja sama antar fungsi
4. Democratic, kepemimpinan yang menghargai pendapat ataupun sudut pandang orang lain, sekalipun berbeda
5. Pacesetting, kepemimpinan yang mampu memberikan model pencapaian sehingga lebih membumi
6. Commanding, kepemimpinan yang dapat bersikap tegas serta berani mengambil resiko, jika diperlukan.
Secara umum ada enam tipe kepemimpinan :
1) Visionary atau Kepemimpinan dengan Visi, yang mampu membawa orang pada tujuan impian bersama. Tipe ini dibutuhkan pada saat terjadinya ketidak pastian atau dibutuhknnya perubahan.
2) Coaching atau Gaya Pembinaan, yang lebih mengutamakan hubungan inter-personalseorang dengan seorang untuk mencapai tujuan organisasi, lebih pas untuk melestarikan kemapanan.
3) Affiliate atata Kepemimpinan Kerja sama, yang lebih mengutamakan harmoni, sangat bagus untuk masa-masa susah dan memotivasi tim yang sedang dalam krisis.
4) Democratic Kepemimpinan demokrasi, mengedepankan pendapat dan pandangan semua orang, dan konsesus dan keinginan bersama adalah pendapat tertinggi.
5) Pacesetting Kepemimpinan Memacu Kemajuan, sangat dibutuhkan untuk memotivasi team dalam mengejar ketinggalan atau untuk mencapai target yang luar biasa.
6) Commanding atau Kepemimpinan Otoriter, yang lebih umum dipakai untuk mengatasi kemelut internal.
Kecerdasan Emosi
Kecerdasan emosi adalah hal yang penting dituntut ada pada diri seorang pemimpin. Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis. Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia (Prawitasari,1995).
Menurut Goleman (2002 : 512), kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial.
Pentingnya Kecerdasan Emosi
Seorang pemimpin yang menggunakan pendekatan kecerdasan emosi (EQ) akan menghasilkan kinerja jauh lebih baik ketimbang pemimpin yang hanya menggunakan pendekatan IQ.
Manfaat
Dengan tingkat kecerdasan emosi yang tinggi, diharapkan kita dapat mengendalikan diri sehingga tidak terjebak oleh emosi negatif maupun emosi positif yang bisa menghanyutkan kita kepada perilaku yang akhirnya tidak menguntungkan untuk kita pribadi
contoh : mendapat kebahagiaan, lalu ephoria sampai melampaui batas.
atau sebailiknya : mendapat kesulitan, lalu terjebak dalam pemikiran bahwa dunia ini sudah kiamat.
Manfaat kecerdasan emosi bagi peserta didik (Mulyasa:162):
- Jujur, disiplin, dan tulus pada diri sendiri, membangun kekuatan dan kesadaran diri, mendengarkan suara hati, hormat dan tanggung jawab
- Memantapkan diri, maju terus, ulet, dan membangun inspirasi secara berkesinambungan
- Membangun watak dan kewibawaan, meningkatkan potensi, dan mengintegrasikan tujuan belajar ke dalam tujuan hidupnya
- Memanfaatkan peluang dan menciptakan masa depan yang lebih cerah
Manajemen Diri dan Waktu Seorang Pemimpin
Pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang membuat rencana dengan hati-hati dan menggunakan waktu dengan baik untuk mencapai sasaran-sasaran. Mengetahui "kapan saatnya" adalah mutu kepemimpinan yang sangat menguntungkan. Akan tetapi, kebanyakan dari kita tidak memiliki waktu kecuali kita secara sadar meluangkannya. Kegiatan sehari-hari untuk membuat daftar hal-hal yang harus dilakukan haruslah mejadi kebiasaan yang teratur. Menentukan waktu untuk mengadakan peninjauan kembali setiap jangka waktu tertentu akan membentuk proses tersebut menjadi "pekerjaan" yang akan kita lakukan setiap hari.
Dan karena perencanaan memerlukan waktu, maka hal itu harus dimulai sejauh mungkin. Untuk melakukan hal ini, buatlah perkiraan berapa banyak waktu dibutuhkan untuk langkah pertama itu. Kemudian tentukan berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk langkah kedua. Buatlah perkiraan waktu untuk setiap tindakan di dalam rencana Saudara dan tuliskanlah dengan jangka waktu yang berdekatan dengan langkah tindakan yang akan dilakukan. Kemudian tentukan batas waktu terakhir untuk setiap langkah yang harus diselesaikan. Misalnya, dalam kegiatan mengerjakan tugas, jangan menunggu sampai satu/dua hari tugas itu akan dikumpulkan. Kerjakanlah dulu dikit demi sedikit walau dikumpulkannya tugas itu masih lama, agar tidak menumpuk dengan tugas-tugas lain.