Rabu, 27 Oktober 2010

Bernegosiasi




Semua manusia sering melakukan negosiasi. Karena manusia saling berkomunikasi dengan manusia yang lainnya, kadang kala tidak selalu positif hasilnya. Keinginan kunci utama timbulnya negosiasi. Misalkan seorang anak sebut saja ben, ben ingin membeli barang, ben akan memikirkan dahulu apakah uangnya cukup. Nah dari pertanyaan itulah timbul negosiasi, jika uangnya tidak cukup ben sudah menyiapkan alasan untuk minta uang kepada orang tuanya. Demi mendapatkan barang itu ben melakukan negosiasi dengan orang tuanya. Misalkan jika barang itu dibelikan, ben akan berjanji mendapatkan nilai yang terbaik. Jadi ketika ada keinginan maka disitu timbul negosiasi.

Lalu pengertian negosiasi itu sebenarnya apa. Menurut saya proses menemukan hasil kesepakatan diantara dua belah pihak dari pertentangan dan perbedaan yang masing-masing pihak inginkan. Menurut Oliver, negosiasi adalah sebuah transaksi dimana kedua belah pihak mempunyai hak atas hasil akhir. Hal ini memerlukan persetujuan kedua belah pihak sehingga terjadi proses yang saling memberi dan menerima sesuatu untuk mencapai suatu kesepakatan bersama. Dari beberapa pengertian diatas, dapat dikemukakan bahwa suatu proses negosiasi selalu melibatkan dua orang atau lebih yang saling berinteraksi, mencari suatu kesepakatan kedua belah pihak dan mencapai tujuan yang dikehendaki bersama yang terlibat dalam negosiasi.

Menurut Hartman, pengertian negosiasi dapat berbeda-beda tergantung dari sudut pandang siapa yang terlibat dalam suatu negosiasi. Dalam hal ini, ada dua pihak yang berkepentingan dalam bernegosiasi, yaitu pembeli dan penjual. Bagi pihak pembeli, negosiasi merupakan seni membeli sampanye Prancis yang berkualitas baik dengan harga sebotol bir. Sementara bagi penjual, negosiasi merupakan seni menjual mobil mewah kepada pembeli yang berpura-pura hanya bisa membeli mobil kelas dua.
Lebih lanjut Hartman menegaskan bahwa negosiasi merupakan suatu proses komunikasi antara dua pihak yang masing-masing mempunyai tujuan dan sudut pandang mereka sendiri, yang berusaha mencapai kesepakatan yang memuaskan kedua belah pihak mengenai masalah yang sama.

Negoisasi sangat unik untuk dipelajari. Tanpa belajar jadi seorang negosiator saja kita sudah bisa bernegosiasi. Saat menghadapi penjual kita tidak boleh menyerah pada asumsi si penjual itu. Asumsi adalah sesuatu yang diciptakan oleh otak kita, dan kita anggap sebagai kebenaran, tanpa pernah mengujicoba apakah memang ia benar. Biasanya kita mendapatkan pertanyaan atau pernyataan dari penjual tersebut yang membuat kita tidak yakin. Seperti “terus-terang saja mas, saya untungnya pas-pasan, yang penting asal laku saja. Kita hanya perlu bicara sedikit saja tapi dapat mempengaruhi.
Negosiasi hampir mirip dengan lobi. Keduanya sama-sama diantara dua belah pihak hanya saja lobi lebih untuk mempengaruhi agar pihak kedua bisa mengikuti apa yang pihak satu inginkan. Saya pun masih sulit untuk membedakan keduanya. Misalkan saat tawar menawar harga barang yang ingin saya beli. Jika belum tercantum harga saya akan bertanya “Nih brp harganya Mba?”. Jika saya menawar saya melakukan lobi kepada mba itu agar harga barang sesuai yang saya inginkan. Jika tidak langsung sesuai misalkan “wah gak bisa Mas,kalau segitu saya bisa rugi ntar” nah jika berkepanjangan seperti itu sampai menemukan titik temu yaitu harga yang pas bagi saya dan penjual, saat itulah saya sedang melakukan negosiasi.
Dalam bidang penjualan barang dan jasa, harga merupakan masalah yang
paling sering di negosiasikan, masalah lainnya meliputi, waktu penyelesaian
kontrak, mutu barang dan jasa yang ditawarkan, volume pembelian, tanggung
jawab pembiayaan, pengambilan risiko, promosi, dan hak serta keamanan produk. Menurut Philip Kotler, negosiasi mempunyai karakteristik sebagai berikut:
a. Terdapat dua pihak yang terlibat;
b. Pihak tersebut mempunyai perbedaan kepentingan dalam satu masalah atau
lebih;
c. Pihak-pihak tersebut bergabung bersama untuk sementara waktu dalam suatu
hubungan khusus yang sifatnya sukarela;
d. Aktivitas tersebut menyangkut pembagian atau pertukaran satu sumber daya
atau lebih dan/atau resolusi mengenai satu masalah tidak berwujud antara
pihak tersebut atau yang mereka wakili;
e. Aktivitas tersebut meliputi presentasi permintaan atau usulan oleh pihak dan
evaluasi oleh pihak lainnya diikuti dengan kesepakatan dan usulan balasan
dan aktivitas tersebut berurutan;
Menurut Bill Scoot, negosiasi adalah bentuk pertemuan antara dua pihak
yaitu kita dan pihak lain, sasaran dari negosiasi tersebut adalah tercapainya suatu
persetujuan.
Negosiasi terjadi bisa kapan saja. Yang penting ada kebutuhan diantara dua belah pihak. Kalau menurut Lee dan Dobler membuat beberapa daftar keadaan yang pada keadaan ini negosiasi merupakan prosedur yang tepat untuk dapat menutup penjualan :
• Ketika banyak faktor berperan, bukan hanya harga, tapi juga mutu dan pelayanan.
• Ketika risiko bisnis tidak dapat ditentukan sebelumnya dengan tepat.
• Ketika dibutuhkan jangka waktu lama untuk memproduksi barang yang dibutuhkan.
• Ketika produksi sering terganggu karena banyaknya perubahan pesanan

Negosiasi perlu memiliki kualitas dan keahlian tertentu agar dapat efektif, yaitu
keahlian mempersiapkan dan merencanakan, pengetahuan mengenai masalah
yang dinegosiasikan/dirundingkan, kemampuan untuk berpikir dengan jelas dan
cepat dalam tekanan dan ketidakpastian, integritas, kemampuan untuk membujuk
pihak lain serta kesabaran. Negosiasi membutuhkan proses. Hal apa saja yang perlu dipersiapkan dalam bernegosiasi agar memperoleh hasil yang maksimal. Menurut Casse, ada tiga tahapan penting dalam bernegosiasi, yakni : tahap perencanaan/planning phase (sebelum negosiasi), tahap implementasi/implementation phase (selama negosiasi) dan tahap peninjauan/reviewing phase (setelah negosiasi).
1. Tahap Perencanaan.
Tahap perencanaan membutuhkan tiga tugas utama, yaitu merencanakan sasaran negosiasi Anda, memutuskan strategi Anda dan memperjelas proses negosiasi.
Sasaran negosiasi adalah apa hasil yang diharapkan dalam bernegosiasi. Hal ini merupakan salah satu alasan utama mengapa seseorang bernegosiasi. Ada beberapa sasaran yang secara umum terdapat dalam sebuah proses negosiasi.
a) BATNA (Best Alternative to Negotiated Agreement)
Langkah-langkah atau alternatif-alternatif yang akan dilakukan oleh seorang negosiator bila negosiasi tidak mencapai kesepakatan. Misalnya, bila pasal mengenai besarnya pesangon yang harus diberikan dalam proses PHK yang diajukan oleh pengusaha tidak dapat disepakati oleh pihak serikat pekerja, maka negosiator dari pihak pengusaha mempunyai dua pilihan, yaitu mencoba melakukan penawaran dengan pasal mengenai penembahan cuti atau meninggalkan perundingan bila tidak ada tanda-tanda positif dari paara perunding pihak pekerja untuk mau beranjak dari posisinya saat ini.
b) Reservation Price (nilai tawar terendah yang dapat diterima sebagai sebuah kesepakatan). Misalnya, negosiator dari pihak pekerja akan menyepakati hasil perundingan secara keseluruhan apabila (setidaknya) minimun 5 dari 10 usulan mereka dapat diterima oleh pihak perusahaan.
c) ZOPA (Zona of Possible Agreement) – area yg memungkinkan terjadinya kesepakatan dalam proses negosiasi. Misalnya, target UMR uang dikehendaki oleh pihak pekerja adalah Ro 1.000.000,- sedangkan reservation price-nya adalah Rp 750.000. sedangkan target UMR yang dikehendaki oleh pihak pengusaha adalah Rp 650.000,- dan reservation price-nya adalah 850.000. zona antara Rp 750.000 dan Rp 850.000,- adalah ZOPA.

2. Tahap Implemantasi
Tahap implementasi merupakan tahap penerapan atau tindakan yang diperlukan agar mencapai sukses dalam negosiasi. Oleh karenanya, tahapan ini bukan lagi wacana atau ide, tetapi sudah berada pada tahapan perilaku dan tindakan yang diperlukan dalam bernegosiasi. Ada beberapa taktik negosiasi yang sering digunakan.
a) Taktik cara Anda
Yang dimaksud dengan taktik cara Anda adalah bahwa Anda tahu tujuan yang ingin dicapai, Anda bersikeras dan memaksa pihak lawan agar percaya bahwa Andalah yang benar, Andalah yang berinisiatif dan mempertahankannya, Anda yang mengendalikan proses negosiasi dan Anda terus menekan.
b) Taktik Bekerja sama
Taktik ini menegaskan bahwa Anda mau mendengarkan pihak lawan dan mengetahui apa yang ada dalam benak mereka, Andalah yang memutuskan untuk bersikap reaktif (bukan proaktif), siap bekerja sama jika proposal pihak lawan sejalan dengan sasaran Anda, Anda setuju tidak setuju dan kadang-kadang mengembangkan ide mereka dan kemudian Anda membuat mereka berhasil.
c) Taktik tidak berbuat apa
Taktik ini merupakan sikap keras kepala dalam bernegosiasi. Dalam hal ini Anda tetap bersikukuh pada pendirian Anda sebelumnya dan tidak mudah berubah. Taktik ini dilakukan karena Anda ingin mempertimbangkan sesuatu, salah satu trik mengulur waktu, upaya membuat pihak lawan gugup atau grogi danAnda percaya inilah saatnya untuk menilai secara persepektif.
d) Taktik melangkah ke tujuan lain
Taktik ini menuntut Andalah yang harus aktif menggeser suatu persoalan ke persoalan lain. Andalah yang memang mencoba untuk menghindar dari suatu persoalan agar tidak dibahas lagi. Taktik ini diambil dengan beberapa alasan, misalnya : Anda punya peluang untuk memenangkan negosiasi saat ini, pihak lain justru yang akan memperoleh peluang memenangkan negosiasi bila suatu persoalan dibahas lagi, waktunya tidak tepat atau adanya kesepakatan lain yang perlu dibahas dulu.

3. Tahap Peninjauan Kembali
Tahapan ini merupakan tahapan setelah berlangsungnya suatu proses negosiasi. Tahapan ini mempunyai arti penting bagi seorang negosiator dalam meninjau kembali apa yang sudah dilakukannya selama bernegosiasi. Sehingga Anda bisa mengukur sejauh mana keberhasilan negosiasi Anda dengan cara memeriksa apakah tujuan Anda sudah tercapai atau belum.